header image
 

kenapa kita susah untuk tersenyum?

senyum dong!

senyum dong!

teman… hari ini saya memeriksa imel yang ada di beberapa account imel yang saya miliki… perhatian saya pada awalnya tidak pada imel yang akan saya bagikan pada teman2 semua… namun entah kenapa saya penasaran dengan imel yang saya ambil di milist almamater saya saat SMA dulu…

thanks to rasharul@xyz.com

dari cerita ini sepertinya pas dengan apa yang sempat bagikan ke pada teman2 saya di tempat kami bekerja… saya sampaikan tidak ada ruginya bagi kita untuk menyapa setiap orang yang kita temui dikantor saat kita memasuki ruang kantor kita… meskipun dia beda bagian… beda profesi… beda strata dan beda2 yang lain…. minimal tersenyumlah pada mereka tiap kita bertattapmuka… karena tidak ada ruginya… menurut saya klo kita ingin diterima pada lingkungan kita maka kita sebaiknya menerima mereka apa adanya… salahsatunya cara yang murah meriah dengan berbagi senyum dengan lingkungan kita….

semoga cerita di imel ini bisa menjadi obat bagi kita yang susah tersenyum pada orang lain…

Di bawah ini adalah kisah dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini
sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk
pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani,
mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang
“tersenyum” kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di
belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya.
Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang
hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.
Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan
memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya
merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat
sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telahkamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu
melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya
merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya.

Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, danruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN
TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara

MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan : Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan
keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni.
Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

semoga ada manfaatnya

“TERSENYUMLAH PADA DUNIA.. MAKA DUNIA AKAN TERSENYUM PADAMU”

Sebuah pemikiran sederhana tentang mendewasakan cinta dengan lapangdada

saya teringat ketika saya membaca imel dari mas jon untuk materi siaran Ruang Hati yang tayang tiap Jum’at malam sabtu di Pro2fm Surabaya… menarik karena isi materi itu mengupas masalah cinta dengan sudut pandang keikhlasan yang sering kali buat kita tidak mudah untuk mencintai atau kehilangan cinta bahkan ditolak cinta kita dengan lapang dada… :) karena dari oret2tan mas jon tadi kita diminta untuk memiliki rasa cinta dengan kedewasaan berpikirini isi dari materi siaran tersebut :
“Aku masih mencintainya. Tapi aku sulit memaafkan
kesalahannya. Dia telah sangat menyakiti hatiku. Rasanya,
aku tidak bisa menerima dia lagi seutuhnya. Aku semakin
ragu, apakah masih melanjutkan pernikahan kami atau
tidak…” Begitulah penuturan seorang wanita di sms yang
saya baca di layar ponsel.
Saya merasa berat hati membalasnya. Karena saya tidak
tahu persis masalah yang sebenarnya. Khawatir kalau saya
jawab bukan tambah baik. Sebaliknya, justru semakin
runyam. Kebimbangan itu sedemikian menakuti hati saya.
Nyaris saya memutuskan tidak menjawab. Tetapi bisikan di
hati mengingatkan, betapa pernikahan adalah sumber besar
kebahagiaan. Sedangkan persoalannya bahkan perpecahannya
menjadi sumber nestapa bukan saja bagi suami istri, tetapi
juga seluruh anggota keluarganya.
Saya bayangkan betapa menyakitkan berumah tangga dengan
cinta yang sudah terluka, apalagi terkoyak. Saya sama
tidak ingin memvonis siapapun yang seolah sudah patah
arang untuk menyembuhkan luka itu padahal kesempatan itu
ada. Hati yang sudah demikian sakit bisa dimaklumi jika
tidak mudah dengan begitu disembuhkan hanya dengan kata
‘maaf’. Bisa jadi kesalahan itu sudah sangat tidak masuk
akal untuk ditolerir.
Namun kehidupan lebih sering mengharuskan kita memilih
salah satu dari dua hal yang sama-sama tidak memuaskan.
Dengan kata lain, dipilih yang manapun mau tidak mau kita
harus jalani salah satunya meski yang kita inginkan
sebenarnya pilihan ketiga. Ketika pasangan hidup kita
mengakui dirinya bersalah, meminta maaf, dan ingin
memperbaiki kembali rumah tangganya, begitu sulit untuk
diterima. Mungkin ada keraguan bahwa permintaan maafnya
tidak tulus. Mungkin hati sudah terlanjur sakit. Atau
kemungkinan lain yang bisa saja sudah mengganjal di hati.
Jika menuruti kata hati, segalanya diakhiri adalah pilihan
ekstrim namun sering kali banyak orang menggampangkan diri
mengambilnya. Mungkin baginya, yang penting tidak hidup
dengan dia lagi.
Banyak kisah, jalan seperti itu tidak selalu menjanjikan
penyelesaian masalah. Dibutuhkan kejernihan untuk menilai
persoalan dengan pikiran tenang dan matang. Awal
kesuksesan dalam kehidupan adalah jika anda sanggup
mempertahankan salamat as-shadr (kebersihan jiwa).
Begitulah ungkapan bijak bertutur. Bersih jiwa dari segala
virus yang merusak hubungan seperti dengki, iri hati,
dendam, benci dan semacamnya. Kebersihan jiwa ini
dibutuhkan untuk mempertahankan kesiapan jiwa untuk
menerima pasangan dan anak-anak kita secara wajar dan apa
adanya, tanpa terlalu terpengaruh oleh fluktuasi jiwa
keperibadiannya dalam berbagai potongan waktu perjalanan
hidupnya. Inilah arti hilm (sifat penyantun) yang
memadukan rasa kasih sayang yang dalam dengan kelapangan
dada untuk setiap saat menerima orang lain secara
keseluruhan.
Mungkin teori yang menyatakan cinta itu adalah memberi,
berkorban, dan menerima orang yang kita cintai apa adanya
terdengar klise di telinga. Tetapi, saya meyakini hal itu
sebagai fakta. Cinta yang sebenarnya juga disertai dengan
sikap santun, kasih sayang, dan lapang dada terhadap
kenyataan pasangan kita apa adanya. Kedewasaan menghadapi
kehidupan manakala kita melaluinya dengan segala warna
kenyataannya. Bukan berada di awang-awang yang membuat
kita tidak menginjak bumi saat menjalaninya. Demikian pula
mungkin kedewasaan cinta ditandai dengan tidak melihat
pasangan cinta sebagai sosok yang jauh di mimpi-mimpi.
Tetapi dia adalah dia dengan dirinya sendiri yang kita
terima sebagai bagian hidup kita dengan kelapangan dada
dengan kelebihan dan kekurangannya.

nah itu yang dikirimkan mas jon kepada saya untuk saya periksa sebelum saya setujui sebagai materi siaran rekan saya ezra moya di prog.siar ruang hati…

saya sempat mengadu argument saya dengan mas jon.. mengutip sebuah lirik dari lagu Phil Colin “everyday” yang berbunyi ” love can make u blind and make u act so strange ” sehingga bisa jadi saking cintanya maka kedewasaan berpikir dalam menelaah cinta itu lenyap berganti menjadi naluri ingin memiliki seutuhnya yang akhirnya memaklumkan segala cara untuk mendapatkannya.. namun itu terjawab dengan sendirinya bahwa bisa jadi saking cintanya hingga bisa saja seseorang dianggap berlaku aneh dengan cara mengikhlaskan cintanya bertepuk sebelah tangan demi sesuatu yang lebih besar lagi manfaatnya bagi kehidupan sekitarnya.. rethinking

Phil Collins - Everyday

” love can make u blind and make u act so strange “

terimakasih buat mas jon dengan imelnya yang luarbiasa

Menyimak Prog.Siaran Ruang Hati 17 Okt 2008 “menyadari keterbatasan”

saat itu rekan saya Ezra Moya yang berdinas dan melakukan obrolan rutin dengan mas jon.H seorang narasumber pro2fm surabaya yang luarbiasa… malam itu prog.Ruang Hati mengangkat topik soal “kerterbatasan yang kita miliki” nah berikut ini oret2an mengutip istilah mas jon tentang konsepnya seputar keterbatasan :

Menyadari Keterbatasan
Dua kutup yang sering kali dialami kebanyakan orang,
mungkin termasuk kita menyangkut daya atau kemampuan diri,
yaitu merasa malu mengakui keterbatasan di satu sisi.
Sedangkan di sisi lain kondisi perasaan yang justru
sebaliknya, yaitu dihantui dihantui keterbatasan sehingga
nyaris tidak memiliki kepercayaan diri atau bahkan putus
asa dengan diri sendiri.
Banyak orang yang selalu berupaya menampakkan diri bahwa
dia tangguh, bisa melakukan banyak hal, atau sosok yang
hebat. Bukannya buruk seseorang merasa kalau dirinya
memiliki kemampuan. Percaya akan kemampuan diri dalam
batas tertentu sangat diperlukan sebagai energi
penyemangat diri dan penumbuh keberanian untuk melakukan
sesuatu hal, bahkan keberanian untuk menjalani kehidupan
ini dengan baik.
Tapi dalam banyak kasus kepribadian orang terlalu
memaksakan bahwa dia “merasa bisa” meskipun sebenarnya dia
tidak memilikinya. Kepribadian semacam ini sering
menganggap simpel persoalan. Di benaknya, semua masalah
seolah bisa diubah dengan mudah, meskipun kenyataannya
sering kali tidak demikian. Karena malu mengakui
keterbatasan, dia mudah menimpakan kesalahan pada orang
lain. Yang pada akhirnya dia menjadi pribadi yang mudah
menghakimi orang lain, termasuk tidak toleran atau
memahami kesalahan orang lain. Bahwa siapapun bisa berbuat
khilaf sengaja atau tidak.
Sementara orang yang dihantui perasaan terbatas menjadi
pribadi yang takut melakukan sesuatu hal. Dia takut
bersalah. Takut tidak berhasil dalam melaukan sesuatu hal.
Pada akhirnya dia tidak berbuat apa-apa. Dalam stadium
tertentu dia menjadi sangat minder. Yang lebih menyedihkan
adalah orang yang berputus asa pada dirinya sendiri.
Sehingga persoalan yang paling ringan yang menimpanya
tidak mampu dia selesaikan sendiri.
Menyadari keterbatasan, bukanlah orang yang minder
apalagi putus asa terhadap dirinya sendiri. Tetapi di
tengah kemampuan yang dimilikinya, dia menyadari bahwa dia
tetap mengakui keberadaan orang lain di sekitarnya. Dia
membutuhkan kehadirannya. Dia mengakui bahwa kesempurnaan
dirinya tidak dibangun oleh dirinya semdirinya. Tetapi
dengan banyak proses kehidupan dan melibatkan banyak
orang. Karenanya, dia begitu menghargai kehadiran lain
serta kontribusi mereka. Dia adalah pribadi yang pandai
berterima kasih sekaligus menyadari keterbatasan yang ada
pada orang lain. Dia lebih suka membangun daripada
menghakimi.

by. mas jon . h untuk pro2fmsby

saya hanya bisa memberikan sedikit catatan semoga keterbatasan seseorang bisa menjadi evaluasi bagi kita sekaligus mengingatkan kita untuk slalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. coz iam just ordinary people.. insyaallah.. :)
adhi.

fall , shine and burn out… :)

Sewaktu saya dalam perjalan pulang usai siaran…waktu itu sekitar pukul 00.30 dini hari beberapa kilometer menjelang rumah saya ada hal yang menarik perhatian saya.. saya melihat suatu kejadian alam yang punya banyak arti bagi setiap orang yang berkesempatan melihatnya.. saya melihat bintang jatuh… atau meteor yang terlihat indah berwarna terang… ada sebuah mitos yang berkisah bahwa tiap kali kita melihat bintang jatuh maka kita segera membuat suatu pengharapan… namun ada sisi lain yang saya lihat dari kejadian bintang jatuh itu… bintang jatuh bisa mejadi sebuah filosofi hidup manusia… ketika bintang jatuh itu tercipta dari gesekan batu luar angkasa dengan atmosfir bumi maka bisa dikatakan itulah proses terciptanya manusia… kemudian ketika dia terbakar dan bersinar terang kemudian dinikmati sebagai bentuk keindahan dan moment untuk berharap… maka bisa diartikan sebagai manusia yang punya manfaat terhadap sekitarnya…. Dan akhir dari itu semua sang bintang jatuh akan habis terbakar…. Sama dengan hidup manusia yang juga ada batasnya… bisa disimpulkan bahwa manusia itu tercipta untuk hidup yang punya arti terhadap dunianya hingga habis masanya menjadi arti di dalam siklus hidupnya…. Maka luar biasa bagi manusia yang tercipta untuk hidup dan dalam kehidupannya berarti bagi sekitarnya pula hingga usai masanya… seperti bintang jatuh yang bersinar kemudian akhirnya menghilang… semoga saya dalam minggu ini bisa menjadi bintang jatuh bagi manusia lain walaupun akhirnya harus terbakar dan menghilang dan tidak diingat lagi…. Insya Allah… amieeen…

i fall , shine then burn out…. :)

sebuah pemikiran tentang disiplin.. :)

Saya menemukan banyak hal sulit ketika mencoba menjalankan rencana pribadi saya, di antaranya adalah disiplin diri. Dulu, saya biasa tidur di atas jam 00:00 dan bangun pagi paling cepat pukul 05.00. Saat itu Saya merasa nyaman dengan pola tidur saya seperti itu. Namun, ketika saya beraktifitas di bidang media yang kebetulan saat itu harus bertugas pagi hari maka saya harus mengubah zona kenyamanan saya dengan membiasakan diri tidur lebih awal dan bangun lebih awal (sekarang saya tidur sekitar pukul 22:00 dan bangun sekitar pukul 03:30 dinihari) karena harus berada di studio siaran sebelum 05.00WIB. Saya harus melawan rasa malas dan mengantuk saat saya bangun di pagi hari. Saya merasa seperti anak kecil yang disuruh melakukan hal yang tidak saya senangi. Tetapi itulah harga yang harus saya bayar untuk menjadi diri saya saat ini. jika kita coba breakdown Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani (dikutip dari wikipedia) dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada sesuatu yang berarti dalam kehidupan ini. jika kita coba mengkaitkan kedisplinan dengan pekerjaan yang saya lakukan saat ini ternyata tidak lepas dari dari unsur kedisplinan… mulia dari kehadiran ditempat saya bekerja, memutar iklan2 yang ada dalam log iklan hingga kedisplinan kita menjaga kedisplinan itu sendiri.

Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.

ada sebuat ucapan dari Presiden Truman :

”In reading the lives of great men, I found that the first victory they won was over themselves ……..…. Self-discipline with all of them come first.”
HARRY S. TRUMAN

semoga kita bisa selalu berusaha mendisplinkan diri kita. :)